Rabu, 07 Januari 2015

TUGAS CERPEN

ISTRIKU
BIDADARIKU

Jam telah menunjukkan pukul 00.45. Tapi Rey tetap saja masih berkutat dengan laptopnya. Ia masih tetap mengetik laporan yang harus ia selesaikan sebelum pukul 2 dini hari nanti. Pekerjaan sebagai wartawan memang menuntutnya untuk selalu sibuk, apalagi ditambah dengan pekerjaan sampingan lainnya. Rey pun sudah meneguk 3 cangkir kopi dan 4 batang rokok sejak tiba di café. Kopi dan rokok memang adalah  sesuatu yang tak boleh jauh darinya. Ia boleh saja tidak makan malam, asalkan kopi dan rokok selalu ada.  Karena dengan begitulah pikirannya dapat tenang, sehingga akan memudahkannya dalam menyelesaikan pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran. Tapi untuk beberapa hari ini sungguh berbeda, termasuk malam ini, pikirannya sungguh sangat kacau dan sulit untuk kosentrasi. Rey memang sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang amat berat baginya. Sesuatu yang tak pernah ia kira akan membebaninya saat ini. Ya, memikirkan istrinya.
Zaki yang sedang duduk di hadapan Rey tetap masih asyik menonton tv. Sesekali ia juga menyereruput kopinya yang masih panas. Walaupun malam ini tidak ada pertandingan bola, tapi Zaki tetap menikmati siaran televisi malam ini, yaitu tayangan animal planet kesukaannya. Kadang-kadang matanya juga tertuju kepada Rey yang masih sibuk dengan laptopnya. Ia heran kenapa dari tadi tugas laporan itu tak kunjung selesai, padahal Rey sudah berada di café ini sejak pukul 8 tadi, jauh sebelum dirinya tiba. Tapi ia malas menanyakkannya, takut mengganggu. Apalagi raut wajahnya seperti menunjukkan ada masalah.
“Zaki, aku duluan ya. Udah larut kali nih, “ seru Rey sambil memasukkan laptopnya kedalam ransel.
“Oh iya…,” jawab Zaki agak kaget, “pekerjaan kau udah siap?”
“Udahlah…,”jawab Rey sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena kaku, “udah ngantuk berat nih mata…”
“Oke deh. Hati-hati ya”
“Yok.”

----
“Kraak,”Rey membuka kunci pintu rumah dan masuk dengan hati-hati.
Rey melihat istrinya sudah tertidur pulas di sofa. Dia bersyukur telah membawa kunci cadangan, sehingga tidak harus membangunkan istrinya. Tapi Rey merasa istrinya pasti sudah menunggunya pulang dengan cukup lama. Dan itu membuat perasaannya semakin bersalah dan kesal. Perasaannya semakin berkecamuk. Rey berpikir bahwa tidak seharusnya istrinya itu harus tidur telat karena menunggunya. Rey tentu tahu istrinya itu tidak bisa tidur telat, karena bisa sakit. Tapi kenapa istrinya selalu mau menunggu kepulangannya. Tidakkah ia langsung tidur saja, tanpa harus menunggunya? Apakah istrinya masih belum menyadari jika pekerjaannya benar-benar sibuk dan menyita waktu?
Rey masuk ke dapur dan melihat ke meja makan. Dia memang sudah menduga. Di meja makan terhidang makan malam yang telah disiapkan istrinya. Rey lalu duduk di kursi dengan perasaan malas dan hanya menatap makanan itu. Dia benar-benar tidak selera untuk makan. Karena dia begitu lelah dengan semua ini. Semua ini begitu membebaninya. Perasaannya semakin merasa bersalah. Apakah dia telah melakukan kesalahan besar? Apakah dia telah salah karena menjadikan Alfa sebagai istrinya?
Rey kembali terkenang masa lalu, beberapa tahun yang lalu, jauh sebelum hari ini. Awal pertemuan Rey dan Alfa adalah ketika semester 2. Mereka adalah sama-sama mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di Universitas yang terkemuka di Banda Aceh. Di saat itulah Rey mengenal Alfa, karena mereka sekelas. Awalnya Rey memang tidak terlalu perhatian dengan sosok Alfa, apalagi sebagai cowok yang cuek dia malas memperhatikan orang-orang, termasuk gadis-gadis di kampus, kecuali itu gadis yang benar-benar cantik. Tapi Alfa, ia begitu berbeda. Alfa memang tidak terlalu cantik, tapi ia memiliki karakter yang begitu lembut, sederhana, alim, ramah dan senyuman yang manis. Jarang ada gadis seperti dia di kampus. Namun tidaklah mudah bagi Rey mendekati Alfa, karena ia agak tampak jaim dan sering menghindar jika didekati. Awalnya Rey merasa agak kesal melihat respon dari Alfa. Tapi Rey baru mengerti sikap Alfa setelah berteman dengannya. Ia adalah tipe perempuan yang bisa didekati lewat kenyamanan dalam pertemanan. Lewat pertemanan itulah, Rey menjadi lebih mengenal sosok Alfa yang agak kalem dan misterius. Ternyata Alfa memilih jurusan ilmu komunikasi karena ingin menjadi seorang jurnalis dan penulis. Alfa seorang gadis yang menyukai tantangan, sama seperti Rey. Karena Rey juga berkeinginan menjadi wartawan lapangan yang meliput berita. Waktu-waktu yang dilalui di masa kuliah membuat Rey semakin mengenal Alfa. Tapi Alfa tidak pernah ingin pacaran.
Rey hanya bisa mengenal Alfa selama 2 tahun lebih. Karena setelah itu Rey bermasalah dengan kuliahnya dan hampir terancam Drop out karena sering malas mengikuti kuliah, lebih sering mengikuti organisasi, dan demo. Namun, yang terparah adalah ketika dia harus cuti kuliah dan pulang ke kampung untuk merawat ayahnya yang sakit parah, hingga meninggal dunia. Setelah itu banyak waktunya terhabiskan dengan bekerja membantu ibunya dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari, karena Rey adalah anak satu-satunya. Ketika teman-teman seangkatannya banyak yang sudah lulus kuliah, Rey kembali ke kota untuk melanjutkan kuliahnya yang terbengkalai. Walaupun kadang rasa malas menghantuinya, tapi ia bertekad untuk menyelesaikan kuliah sampai sarjana, karena ia terus mengingat pesan ibunya.
Akhirnya Rey berhasil menjadi sarjana ditengah banyak tekanan yang ia hadapi. Dan sosok Alfa pun sudah lama terlupakan dari dirinya selama 3 tahun. Karena terakhir bertemu, Rey tidak pernah meminta nomornya. Namun, akhirnya mereka bertemu kembali di sebuah kantor penerbit media cetak yang terkemuka di Banda Aceh. Alfa bekerja sebagai bagian dari redaksi di sana baru setahun. Sedangkan Rey melamar sebagai wartawan lapangan dan cameramen. Pertemuan yang tidak disangka-sangka ini telah membuat Rey kembali dekat dengan Alfa. Walaupun Alfa sedikit menjaga jarak, cukup sebatas teman katanya.
Maka sampailah pada waktunya ketika Ibu Rey mendesak Rey untuk segera menikah. Padahal Rey masih ingin menikmati masa lajangnya, karena ia belum siap untuk menikah. Akhirnya, untuk membahagiakan ibunya, Rey menyetujui permintaan ibunya. Dan Rey berkeinginan untuk menikahi Alfa. Awalnya Rey sempat ragu, karena ia merasa tidak pantas menikahi Alfa. Karena ia adalah gadis yang baik, sedangkan Rey merasa adalah pemuda yang tidak jelas hidupnya. Pasti masih banyak pemuda yang pantas mendapati Alfa. Tapi ketika ia mencoba menyampaikan maksudnya itu, Rey terkejut dan tidak sanggup berkata apa-apa. Karena yang ia lihat dari Alfa adalah senyuman dan mata yang berkaca-kaca.
Sampailah pada saat ini, di usia perkawinan yang berjalan dua tahun. Rey merasa belum mampu membahagiakan Alfa. Rey merasa Alfa pasti menyesal menikah dengannya. Ia merasa telah membuat hidup Alfa yang normal menjadi berantakan seperti dirinya. Semenjak menikah dengan Rey, Alfa memutuskan untuk tidak bekerja lagi di media cetak. Ia ingin fokus sebagai ibu rumah tangga. Namun Alfa cukup sering menulis di media cetak seperti cerpen, artikel, essay, dan sebagainya. Rey benar-benar menyukai tulisan Alfa yang dalam. Alfa memang lebih ahli dalam menulis daripada dirinya. Rey melamun cukup lama, hingga ia melihat sebuah buku tulis diatas meja. Rey lalu mengambil dan membuka lembarannya. Ia kaget, ini adalah buku harian Alfa. Ia memang tahu kalau Alfa mempunyai diary, tapi ia tidak pernah berani membacanya. Karena itu adalah sesuatu yang pasti rahasia bagi Alfa. Tapi, Rey mencoba untuk melihat-lihat saja. Dan akhirnya membuat ia harus membacanya.

2 Januari 2015
Sikap Reihan belakangan ini begitu aneh. Kenapa ya??? Apakah dia marah padaku? Mungkin aku adalah istri yang membosankan baginya?Aku sedih sekali……….. kadang aku ingin berbicara padanya, tapi aku begitu segan, tidak berani, karena aku takut akan menyusahkannya saja. Aku takut menjadi beban baginya…..apakah dia menyesal menikahi aku?? Munkin ia kadang. Tapi aku tidak pernah menyesal. Walaupun ada yg mengatakan aku telah menikah dengan orang yang salah, menurutku itu tidak benar. Reihan baik kok, dia benar-benar baik. Dulu, ketika masih kuliah, aku pernah melihat dia membantu seorang gadis yang motornya sama2 jatuh ke dalam got besar. Dialah orang yg pertama kali buru-buru membantu gadis itu dan juga motornya, baru setelah itu orang2 ramai berdatangan. Ada lagi, tidak hanya itu, banyak. Yg membuatku terkesima adalah begitu sayangnya ia pada ibunya dan rela berkorban apapun. Sungguh aku jahat, karena tdk bisa menyayangi ibuku sendiri dgn tulus seperti Rey menyayangi ibunya. Mungkin krn aku lebih dekat dengan ayah. Tapi aku tetap sayang ibuku.
Tapi yg tdk aku sukai dari Rey adalah merokok. SUNGGUH BERAT MEROKOK. Kalau kopi ya tak apalah. Yg penting ia tak boleh lupakan shalat dan kewajibannya sebagai seorang hamba Allah. Itu yg pentig. Karena dgn begitu aku pasti slalu percaya padanya
Dia perlu sedikit bimbingan J
ALFA
Rey tampak gemetar. Dia tidak suka keadaan seperti ini. Tapi ia tidak sanggup menahannya. Ya, air mata harus jatuh. Air mata bahagia. Dia kembali membaca halaman sebelahnya. Ya, tepatnya hari ini, beberapa jam tadi.

3 Januari 2015
Reyhan belum pulang.
Aku sudah menyiapkan makan malam. Bodohnya aku, padahal ia sudah mengingatkan aku utk tdk usah menyiapkan makan malam baginya, krn ia makan diluar dan sambil menyelesaikan pekerjaannya. Tapi aku tahu, mana mungkin dia makan, dia kan pasti ROKOK dan KOPI. Aku khawatir dia sakit. Mungkin krn masakanku tdk enak kdg. Aku memang payah, baru belajar memasak ketika mau menikah. Mungkin itu alasannya, aku harus belajar lagi.
Aku harus menunggunya,
Mudah2an dia baik2 saja di jalan. Aamiin…………… J
ALFA

Rey jadi sulit mengendalikan diri. Tapi dia ingin menangis, tertawa, dan bahagia. Sungguh dia benar- benar bahagia malam ini. Reihan yang dari awal tidak selera makan, kini ia mengambil piring, nasi, dan lauk-pauk. Dia ingin memakan ini semua sampai habis. Mungkin perasaan bahagia akan membuatnya bias menghabiskan semua makan ini.
“Reyhan, kamu tidak mengajakku makan?” suara Alfa dengan tiba-tiba muncul di depan  pintu.
“Alfa, kamu… ke, kenapa bangun?’’ sontak Rey kaget melihat istrinya.
“Ya, aku mau makanlah, dari tadi aku menunggumu. Lapar tau” jawab Alfa sambil duduk di kursi.
Rey menjadi menyesal, “Alfa maafkan aku, aku memang salah. Aku menyesal sekali, tolonglah, maafkan aku…”
“Hahaha…. Lucu, lucu banget. Ekspresimu itu lho. Seharusnya itu di rekam. Hahahaha…”
Rey kaget, namun dia tertawa juga dan mulai mencubit pipi istrinya.
Alfa mengerang, “Hei, hei, sakit tauk, nanti tidak jadi aku maafkan.”
Rey tertawa, “Iya, maafkan aku sekali lagi.”
“ Iya hay, ayo kita makan.”
“Maaf, aku telah membaca diarymu. Tapi ini sudah tengah malam, kamu nanti bisa sak..”
Alfa langsung menimpali,” Udah udah cerewet, ayo cepat makan…”
Rey tertawa, perasaannya menjadi begitu lapang malam ini.
“Istriku, bidadariku.”
Alfa tergelak.

---