Kamis, 18 Desember 2014

TUGAS MENULIS PENGALAMAN TSUNAMI 2004

Nama: Ade Irma Suryani
Nim  : 1210102010025

Memory of Tsunami

Tinggal beberapa hari lagi peringatan 10 tahun Tsunami. Mungkin, peringatan Tsunami pada tahun-tahun yang telah lalu tidak begitu menyita perhatian ku. Namun, untuk tahun ini sepertinya menjadi begitu berbeda. Beberapa hal tersebut adalah seperti pada momen “10 tahun”. Rasanya sulit untuk menjelaskan maksud dari sepuluh tahun itu. Mungkin karena 2004-2014, tapi entahlah. Selain hal tersebut yang mengingatkan ku kembali, juga ada tentang rumahku. Mungkin hal ini sedikit unik menurutku. Ketika hari Minggu terakhir di bulan Desember terjadi Tsunami, maka malam Minggu itu menjadi malam terakhir aku tidur di rumah itu. Namun tak pernah ku sangka sebelumnya,ternyata sepuluh tahun kemudian di tahun 2014 di awal Desember malam Senin,  menjadi awal aku tidur kembali di rumah itu. Akhirnya aku kembali ke rumah itu setelah 10 tahun Tsunami.
Tsunami adalah peristiwa yang bisa di katakan cukup mendalam bagiku. Walaupun kami sekeluarga selamat dari musibah itu, tapi memang peristiwa tersebut tidak bisa di lupakan. Karena beberapa kejadian yang terjadi di saat Tsunami maupun pasca Tsunami masih begitu membekas di memori ini. Beberapa kejadian tersebut adalah saat adikku yang perempuan jatuh ke dalam air Tsunami, saat ayahku ingin menaikkannya ke parabola, karena air semakin naik. Itu kejadiannya saat berada di atap rumah. Namun, ketika adikku tidak tampak lagi setelah jatuh ke dalam air berlumpur itu, tiba-tiba tangan dia tergapai ke atas, maka langsung ayahku menarik dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri ayahku menggendong adik yang masih bayi. Hal tersebut begitu spontan di mataku. Hal yang tak bisa di lupakan juga adalah ketika ayahku berusaha mengambil buah kelapa ketika adikku yang bayi sudah kehausan dan perlu asi, sedangkan mamak pada hari itu sedang ke pasar. Setelah ayahku berhasil mendapatkan buah kelapa itu dengan susah payah, dan akhirnya kami meminumnya sedikit, walaupun di dalam hati sungguh aku tidak mau makan dan minum apapun. Ayahku juga membagikan air kelapa itu sedikit kepada seorang gadis muda yang berhasil selamat dari Tsunami, sepertinya kakak itu juga terminum air lumpur Tsunami, seperti adikku. Maka hal tersebutlah yang mencengangkanku ketika 3 tahun kemudian, yakni ketika tahun 2007 saat hari raya Idul Fitri. Ketika saat berkunjung ke rumah saudara dan ayahku bercerita tentang kejadian Tsunami, barulah aku tahu ternyata air kelapa itu mempunyai kandungan yang mampu menetralkan racun, termasuk air lumpur Tsunami itu, padahal sebelumnya kami sama sekali tidak tahu akan hal itu. Lalu pernah ku baca tentang bahaya lumpur Tsunami itu di internet, dan katanya ada orang-orang yang meninggal sehari setelah kejadian itu karena efek dari  racun tersebut yang terminum airnya saat tenggelam. Memang ada beberapa orang juga yang kuketahui, meninggal setelah kejadian hari Minggu, mungkin karena mereka terminum air lumpur itu. Tapi hanya Allah yang lebih tahu penyebabnya. Alhamdulillah, kami di tolong oleh Allah.
Memang banyak peristiwa-peristiwa yang ku alami saat kejadian dan sesudah kejadian itu, dan memang akan panjang jika di ceritakan semuanya. Kalau pada peristiwa yang membuatku kaget adalah saat bertemu kembali dengan mamak di Stadion Lampineung. Sungguh aku tak menyangka kami akan bertemu dengan mamak lagi, karena kami kira mamak tidak selamat, apalagi perjumpaan yang tak terduga di tempat itu. Memang, sebelum ke mengungsi ke Stadion Lampineung kami bertemu dengan beberapa saudara di dekat kantor Gubernur, dan kami mengatakan akan mengungsi ke sana. Mungkin kemudian  mereka bertemu dengan mamak, lalu mengabari hal itu. Aku sangat bersyukur, adikku tidak kehausan lagi. Aku merasa ini memang sudah di atur oleh Allah.
Salah satu peristiwa yang membuatku sedih adalah ketika adikku yang masih berusia sepuluh bulan itu  harus di serahkan kepada saudaraku karena suatu alasan. Dia di bawa oleh saudaraku ke daerah pulau seberang yang jauh dari Aceh. Itu kejadiannya pada bulan Januari tahun 2005 saat kami mengungsi di Mesjid Kampung Keuramat. Walaupun aku sering mengeluh karena capek menjaga adik bayi, karena aku tidak bisa bermain-main lagi dengan teman-teman, tapi sungguh aku tak ingin dia di ambil oleh mereka. Tapi aku tahu, ini sudah menjadi takdir Allah, dan Allah punya rencana dan skenario yang terbaik. Aku tahu di balik ini ada alasannya. Seperti musibah Tsunami yang mempunyai hikmah di balik semuanya.