Nama:
Ade Irma Suryani
Nim : 1210102010025
Memory
of Tsunami
Tinggal
beberapa hari lagi peringatan 10 tahun Tsunami. Mungkin, peringatan Tsunami pada
tahun-tahun yang telah lalu tidak begitu menyita perhatian ku. Namun, untuk
tahun ini sepertinya menjadi begitu berbeda. Beberapa hal tersebut adalah seperti
pada momen “10 tahun”. Rasanya sulit untuk menjelaskan maksud dari sepuluh
tahun itu. Mungkin karena 2004-2014, tapi entahlah. Selain hal tersebut yang
mengingatkan ku kembali, juga ada tentang rumahku. Mungkin hal ini sedikit unik
menurutku. Ketika hari Minggu terakhir di bulan Desember terjadi Tsunami, maka
malam Minggu itu menjadi malam terakhir aku tidur di rumah itu. Namun tak
pernah ku sangka sebelumnya,ternyata sepuluh tahun kemudian di tahun 2014 di
awal Desember malam Senin, menjadi awal aku
tidur kembali di rumah itu. Akhirnya aku kembali ke rumah itu setelah 10 tahun
Tsunami.
Tsunami
adalah peristiwa yang bisa di katakan cukup mendalam bagiku. Walaupun kami
sekeluarga selamat dari musibah itu, tapi memang peristiwa tersebut tidak bisa di
lupakan. Karena beberapa kejadian yang terjadi di saat Tsunami maupun pasca
Tsunami masih begitu membekas di memori ini. Beberapa kejadian tersebut adalah
saat adikku yang perempuan jatuh ke dalam air Tsunami, saat ayahku ingin
menaikkannya ke parabola, karena air semakin naik. Itu kejadiannya saat berada
di atap rumah. Namun, ketika adikku tidak tampak lagi setelah jatuh ke dalam
air berlumpur itu, tiba-tiba tangan dia tergapai ke atas, maka langsung ayahku
menarik dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri ayahku menggendong adik
yang masih bayi. Hal tersebut begitu spontan di mataku. Hal yang tak bisa di
lupakan juga adalah ketika ayahku berusaha mengambil buah kelapa ketika adikku
yang bayi sudah kehausan dan perlu asi, sedangkan mamak pada hari itu sedang ke
pasar. Setelah ayahku berhasil mendapatkan buah kelapa itu dengan susah payah,
dan akhirnya kami meminumnya sedikit, walaupun di dalam hati sungguh aku tidak
mau makan dan minum apapun. Ayahku juga membagikan air kelapa itu sedikit
kepada seorang gadis muda yang berhasil selamat dari Tsunami, sepertinya kakak
itu juga terminum air lumpur Tsunami, seperti adikku. Maka hal tersebutlah yang
mencengangkanku ketika 3 tahun kemudian, yakni ketika tahun 2007 saat hari raya
Idul Fitri. Ketika saat berkunjung ke rumah saudara dan ayahku bercerita
tentang kejadian Tsunami, barulah aku tahu ternyata air kelapa itu mempunyai
kandungan yang mampu menetralkan racun, termasuk air lumpur Tsunami itu,
padahal sebelumnya kami sama sekali tidak tahu akan hal itu. Lalu pernah ku
baca tentang bahaya lumpur Tsunami itu di internet, dan katanya ada orang-orang
yang meninggal sehari setelah kejadian itu karena efek dari racun tersebut yang terminum airnya saat
tenggelam. Memang ada beberapa orang juga yang kuketahui, meninggal setelah
kejadian hari Minggu, mungkin karena mereka terminum air lumpur itu. Tapi hanya
Allah yang lebih tahu penyebabnya. Alhamdulillah, kami di tolong oleh Allah.
Memang
banyak peristiwa-peristiwa yang ku alami saat kejadian dan sesudah kejadian itu,
dan memang akan panjang jika di ceritakan semuanya. Kalau pada peristiwa yang
membuatku kaget adalah saat bertemu kembali dengan mamak di Stadion Lampineung.
Sungguh aku tak menyangka kami akan bertemu dengan mamak lagi, karena kami kira
mamak tidak selamat, apalagi perjumpaan yang tak terduga di tempat itu. Memang,
sebelum ke mengungsi ke Stadion Lampineung kami bertemu dengan beberapa saudara
di dekat kantor Gubernur, dan kami mengatakan akan mengungsi ke sana. Mungkin
kemudian mereka bertemu dengan mamak,
lalu mengabari hal itu. Aku sangat bersyukur, adikku tidak kehausan lagi. Aku
merasa ini memang sudah di atur oleh Allah.
Salah satu peristiwa
yang membuatku sedih adalah ketika adikku yang masih berusia sepuluh bulan itu harus di serahkan kepada saudaraku karena
suatu alasan. Dia di bawa oleh saudaraku ke daerah pulau seberang yang jauh
dari Aceh. Itu kejadiannya pada bulan Januari tahun 2005 saat kami mengungsi di
Mesjid Kampung Keuramat. Walaupun aku sering mengeluh karena capek menjaga adik
bayi, karena aku tidak bisa bermain-main lagi dengan teman-teman, tapi sungguh aku
tak ingin dia di ambil oleh mereka. Tapi aku tahu, ini sudah menjadi takdir
Allah, dan Allah punya rencana dan skenario yang terbaik. Aku tahu di balik ini
ada alasannya. Seperti musibah Tsunami yang mempunyai hikmah di balik semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar