Jumat, 28 November 2014

Analisa Tentang " Kejarlah Daku, Kau Kusekolahkan"

Karya jurnalisme sastrawi yang ditulis oleh Alfian Hamzah yang berjudul “Kejarlah Daku, Kau Kusekolahkan” cukup menarik. Apa  lagi  karya tersebut ditulis berdasarkan pengalaman langsung penulis selama dua bulan bersama TNI saat bertugas di Aceh selama konflik. Penulis mampu menyajikan kisah nyata itu dengan menarik, apa adanya, dan cenderung tidak memihak antara  kedua belah pihak dengan diselingi humor dan guyonan  dan spontanitas santai sehari-hari. Namun  juga terdapat hal-hal yang ikut menyelisik hati nurani kita terhadap hal-hal keji yang pernah dilakukan oleh TNI. Selain itu, dalam penulisan cerita tersebut terdapat beberapa kalimat penjelasan dan tanda baca yang tidak sesuai, hingga kadang membuat kita sulit mengerti cerita  tersebut.
Setelah membaca cerita tersebut, kita dapat menilai bahwa karakter penulis tersebut bersifat netral, kritis, dan memihak pada kebenaran.  Sedangkan karakter para tentara adalah keras, tidak ambil pusing, tidak berperi  kemanusiaan, namun  ada juga para tentara yang setia kawan dan saling tolong menolong.
Cerita ini mengandung alur kronologi dan campuran, dimana kisah yang ditulis tersebut diawali dengan keberangkatan sang jurnalis bersama TNI di dermaga sampai perpisahan bersama para tentara ketika habisnya masa peliputan jurnalis tersebut.

Amanat yang bisa diambil dalam cerita tersebut adalah, konflik yang pernah terjadi di Aceh tidak seharusnya ditangani secara peperangan yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa, termasuk rakyat sipil yang tidak ada hubungannya. Dalam menyelesaikan perselisihan paham, jalur diplomasilah yang cukup tepat untuk menyelesaikan peristiwa tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar