Karya jurnalisme sastrawi yang ditulis oleh Alfian Hamzah
yang berjudul “Kejarlah Daku, Kau Kusekolahkan” cukup menarik. Apa lagi
karya tersebut ditulis berdasarkan pengalaman langsung penulis selama
dua bulan bersama TNI saat bertugas di Aceh selama konflik. Penulis mampu
menyajikan kisah nyata itu dengan menarik, apa adanya, dan cenderung tidak
memihak antara kedua belah pihak dengan
diselingi humor dan guyonan dan
spontanitas santai sehari-hari. Namun juga terdapat hal-hal yang ikut menyelisik
hati nurani kita terhadap hal-hal keji yang pernah dilakukan oleh TNI. Selain
itu, dalam penulisan cerita tersebut terdapat beberapa kalimat penjelasan dan tanda
baca yang tidak sesuai, hingga kadang membuat kita sulit mengerti cerita tersebut.
Setelah membaca cerita tersebut, kita dapat menilai
bahwa karakter penulis tersebut bersifat netral, kritis, dan memihak pada
kebenaran. Sedangkan karakter para tentara
adalah keras, tidak ambil pusing, tidak berperi
kemanusiaan, namun ada juga para
tentara yang setia kawan dan saling tolong menolong.
Cerita ini mengandung alur kronologi dan campuran,
dimana kisah yang ditulis tersebut diawali dengan keberangkatan sang jurnalis
bersama TNI di dermaga sampai perpisahan bersama para tentara ketika habisnya
masa peliputan jurnalis tersebut.
Amanat yang bisa diambil dalam cerita tersebut
adalah, konflik yang pernah terjadi di Aceh tidak seharusnya ditangani secara
peperangan yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa, termasuk rakyat sipil yang
tidak ada hubungannya. Dalam menyelesaikan perselisihan paham, jalur
diplomasilah yang cukup tepat untuk menyelesaikan peristiwa tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar