Jumat, 14 November 2014

Unsur yang diambil adalah "Third Person of Views''

Ujian Perasaan


   Anna adalah seorang gadis yang masih kelas 2 SMA. Dari penampilannya ia tampak seperti gadis lain pada umumnya. Tapi jika dilihat dari kepribadiannya, sungguh sangat berbeda. Banyak hal yang membedakan karakter Anna dengan gadis remaja lainnya, termasuk masalah percintaan. Jika gadis remaja lainnya pada seusia itu sibuk memikirkan soal cinta, termasuk lawan jenis dan pacaran, maka tidak dengan Anna. Anna tidak suka dengan hal-hal seperti itu. Bahkan ia sangat jijik melihat orang-orang yang berpacaran. Anna tidak suka berpacaran, apalagi ia tahu bahwa di dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran.Karena pacaran itu mendekati zina, dan dalam Al-qur'an ada ayat yang menyatakan larangan untuk mendekati zina. Karena Anna berkomitmen seperti itu, maka banyak teman-teman yang mengatakan bahwa dia adalah gadis alim dan shaliha. Dan Anna menolak apa yang dikatakan oleh teman-temannya. Karena Anna  menyadari bahwa ia tidaklah seperti itu. Ia tahu dirinya bukanlah manusia suci dan banyak melakukan dosa. Anna berkeyakinan bahwa dia hanyalah seorang  manusia biasa yang di jaga aibnya oleh Allah. Namun Anna mencintai kebaikan dan ingin menjadi baik, walaupun dia merasa dirinya begitu rapuh. Karena kerapuhannya itulah, maka Anna juga selalu memohon pertolongan Allah agar bisa kuat menghadapi ujian, termasuk ujian soal perasaan.
   Belakangan ini Anna memang merasa tidak enak dan agak risih di sekolah. Ini bermula karena seorang teman kelasnya yang laki-laki, yaitu Rio. Rio memang adalah seorang anak remaja yang jail, malas, suka mengganggu, namun baik hati, dan humoris. Karena sifatnya yang jail inilah yang membuat Rio suka mengganggu teman-temannya yang perempuan, termasuk Anna. Karena Rio begitu penasaran kepada Anna. Dia melihat Anna adalah sosok yang agak kalem, menyendiri, jarang bergabung dengan dengan teman-teman perempuan, dan sering ke perpustakaan. Apalagi jika di ganggu, Anna sering tersenyum malu-malu, namun kadang-kadang ia juga tampak kesal, dan menghindar. Memang yang membuat Anna tidak bisa menahan senyumnya adalah karena sifat Rio yang sangat lucu baginya. Apalagi jarang ada hal-hal yang membuat Anna tersenyum dan tertawa. Karena Rio sudah mulai suka mengganggu Anna dan Anna juga sering terseyum, maka sekarang banyak teman-teman sekelas yang meledek mereka berdua. Rio pun santai-santai saja mendengar gosip itu, sedangkan Anna menjadi tidak enak, dan selalu berwajah kemerahan. Dalam pikiran Anna terbayang tiba-tiba, mungkin saja Rio suka padanya. Tapi Anna berusaha untuk menepisnya, karena dia merasa hanya ke-GRan saja. Namun, Rio tetap selalu mengganggunya, dari dalam kelas sampai pulang sekolah. Anna pun jadi semakin sulit mengendalikan diri, apalagi dia seorang gadis pemalu. Namun, apa yang dia duga akhirnya benar, dan ini membuat dia sedih. Padahal seharusnya ia tak perlu sedih.
   Kemarin Anna melihat Rio di kelas sebelah sedang bercanda riang dengan gadis lain, dan sepulang sekolah Rio membonceng gadis itu dengan motornya. Anna merasakan hal yang lain dihatinya. Hal yang menyakitkan.Tiba-tiba saja air mata jatuh dari matanya, dan langsung ia tepiskan. Anna merasa telah membawa perasaannya melayang-layang tak karuan. Seharusnya ia tak perlu berharap apa-apa dan merasa ke-GR-an begini. Tentu saja Rio tidak menyukainya, dia hanya suka mengganggu dirinya saja, agar dirinya selalu tersenyum dan ceria di kelas, mungkin maksud Rio memang baik, pikirnya.
   Hari ini perasaan Anna sudah agak baik. Dia merasa tenang dengan shalat dan mengaji. Dia sadar, selama ini ia sudah begitu jauh dengan Allah. Anna merasa berdosa karena lebih banyak mengingat manusia dari pada Allah. Padahal ia tahu, bahwa Allah adalah segala-galanya, dan mencintai-Nya lah yang paling utama. Perasaan ini adalah ujian. Tapi Anna senang jika ujian ini mengembalikan dirinya untuk menyadari, bahwa cinta Allah lah yang sejati. Dan Anna ingin cinta sejati dan hakiki.
   Anna juga menyadari, bahwa menyukai seseorang bukanlah suatu dosa, tetapi bagaimana kita mengendalikan perasaan itu agar sesuai perintah agama.

By : ADE IRMA SURYANI
       tanpa di copast

Tidak ada komentar:

Posting Komentar